Selasa, 31 Juli 2012

Tegarlah Adinda [Part I]



Aku melihat dia merasa begitu nyaman bersamaku, begitu juga aku selalu menjadi diri sendiri ketika bersamanya.
Meski aku dan dia memiliki kepribadian yang berbeda, pemikiran yang berbeda, pandangan yang berbeda. Bahkan aku dan dia menempatkan cinta pada perspektif yang berbeda.
Dan hari yang terus berganti, minggu yang berlalu, dan waktu yang terus berjalan bersama aku dan dia, membuat hubungan kami semakin dekat dan sangat erat, hingga meski jarak memisahkan aku dan dia namun waktu tak lagi mampu memisahkan hatiku dan hatinya.
Akulah orang yang akan membuatnya tersenyum ketika dia sedih, hingga dia bisa tertawa bahagia. Aku adalah teman ketika dia merasa sepi. Aku…… Aku adalah orang yang beruntung telah mengenal dia.
Sedangkan dia, dia adalah orang yang selalu “mengganggu” tidurku ketika fajar menantikan mentari. Dialah yang selalu mengingatkanku untuk “Menghadap” ketika tiba masanya. Dia…… Dan dialah wanita yang memberi perhatian padaku, bahkan melebihi pacarku.
Awalnya aku dan dia hanya berbalas sms untuk saling menyapa. Kemudian sering aku menelponnya, terkadang juga dia yang rela menghubungiku hanya untuk berbalas canda, hingga aku dan dia dapat tertawa bersama, meski aku dan dia berada di tempat yang berbeda.
Ternyata perbedaan bisa menjadi terlalu indah, seperti halnya aku dan dia. Tapi perbedaan juga bisa menggalaukan dua hati yang saling berpadu, menyakiti hati yang sedang berbunga, ketika perbedaan itu berada pada waktu yang tak seharusnya.
Seperti saat hatinya di kuasai ego dan perasaan, namun aku mempertahankan prinsip dan logika. Saat dia menginginkan aku untuk menjadi lebih dari sekedar teman, atau sahabat, namun aku tak mengijinkan karena waktu dan keadaan.
Saat itu percakapanku dan dia, tak lagi sekedar tegur sapa. Namun hati dan seisinya tumpah didalamnya, hingga percakapanku dan dia menjadi penuh makna, karna tak hanya sekedar canda dan tawa namun juga luka dan air mata.
“Mas, gimana mas ama pacar mas?” Sering pertanyaan itu dia lontarkan di sela percakapan kami.
“Gak ada masalah, kita baik-baik aja kok” Itu jawaban yang selalu aku berikan, karena tak mau memberinya harapan. Agar dia tetap mencintaiku sebagai seorang sahabat. Hingga hubunganku dan dia tetap indah dan penuh warna seperti pelangi. Dan hubungannya dengan tunangannya, tetap baik-baik saja.
“Gimana kabar mamasnya dek?, baik-baik aja kan?, masih sering telpon kan?”, demikian, kadang aku terpancing untuk menanyakan hubungan dia dan tunangannya yang juga terpisah jarak, sebagaimana aku dan dia.
Saat itulah dia mulai bermanja, mencurahkan segala isi hatinya, hingga aku dan dia harus bermain dengan ego, memperdebatkan realita, dan aku tetap bertahan dengan prinsip. Aku “dituntut” untuk lebih dewasa, membimbingnya, dan meyakinkannya bahwa semuanya akan baik-baik saja.
“Mungkin karena kalian jauh, dalam hubungan, kita harus saling percaya, dan satu lagi, keep connecting. Percayalah, ini cuma ujian buat hubungan kalian, untuk mendewasakan kalian. Mas yakin, kalian bisa lewatin ini semua,” Begitu aku coba meyakinkan dia, bahwa semua hal negatif yang dia utarakan tentang hubungannnya dengan tunangannya hanyalah sekedar kekhawatiran belaka. Kemudian dia dapat menganggapku hanyalah sahabatnya.
Namun ego dan perasaannya yang berskongkol telah menancapkan rasa cinta yang begitu dalam di hatinya bahkan mampu mengalahkan logika dan menentang realita.
“Tau gak sih mas?, aku tuh sakit kalo lihat mas ama pacar mas”.
“Kita gak akan sakit, kalo kita mencintai dengan benar”.
“Aku sudah menitipkan cinta ini pada seseorang, mas”.
Aku paham, yang dia maksud dengan ‘seseorang’ itu adalah aku.
“Mas sudah putus ama pacar mas, dek…”, mungkin kalimat itu yang berharap dia dengar dari mulutku.
“Tapi sayang, kamu menitipkannya tidak pada orang yang tepat”, entah dia mengerti atau tidak, dengan maksudku.
... [continued]

===================================
sumber gambar: webku76.blogspot.com

Minggu, 08 April 2012

Biarlah


Biarkan hujan bergemuruh
Biarkan halilintar menggelegar
Bersama petir yang menyambar
Biar saja pelangi menghitam
Dan hari-hari menjadi suram
Biar semua hancur
Luluh lantak bersama kepingan hatiku yang terserak

Mungkin malam tak lagi sunyi ketika aku sendiri
Karena gundah selalu hinggap dalam hatiku

Tapi dunia belum berakhir
Kan ku tata kembali langkah yang telah terseok
Biar ku himpun serpihan hatiku yang terhempas begitu dalam
Walau sulit tetap haru kujalani hidup ini
Walau tanpa dirimu lagi

Biarlah kan kunikmati waktuku sendiri
Biarkan aku menikmati malam sunyi
Biarkan aku bersimpuh dalam hening
Biarlah sepi sendiri
Biarlah rindu menanti
Biarlah cinta bersemayam dihati
Biarlah…
Biarlah.

=======================

Sumber Gambar: lolypopshop.blogspot.com

Masihkah



Ingatkah ketika kau genggam erat tanganku dulu?
Dan kita lukiskan pelangi dalam kebersamaan kita.
Saat dimana kita melangkah bersama,
Ketika pahit tak lagi terasa ketika berdua
Dunia seakan cemburu

Tapi itu dulu…
Sebelum pelangi berubah menjadi hitam
Sebelum kota terasa seakan sunyi
Masih ingatkah kau saat indah itu?
Ingatkah ketika kita meniti langkah menuju keindahan
Ketika kita mencoba tuk menggapai sesuatu yang “Akan Indah Pada Waktunya”?
Ingatkah dirimu,,,?
Ingatkah masa lalu itu…

Tapi itu dulu…
Sebelum waktu menyatakan tidak berpihak pada kebersamaan kita
Ketika keindahan adalah teman bagi setiap detik yang berlalu

Tapi itu dulu…
Ketika aku yakin akan dirimu
Dan aku titipkan hatiku padamu

Tapi itu dulu…
Ketika aku masih memahami perasaan ku
Dan kau menggenggam erat rinduku
Sebelum aku tenggelam dalam kegalauanku

Tapi kini aku bertanya pada malam sunyi yang gelap
Pada pagi buta yang basah
Bertanya pada angin lalu yang berlari
Bahkan pada diriku sendiri yang masih tak mengerti
“Masihkah aku mencintaimu?’
Masihkah aku mencintaimu sedalam rindumu padaku?

===========================
Sumber gambar: tulisaja.com

Kamis, 05 April 2012

Munajat Sang "Pungguk yang Merindukan Bulan"



Aku memang tak sempurna,
Jiwaku mungkin terluka oleh dosa,
Qalbuku keruh dalam gemuruh langkah tak terarah,
Dalam pendangan kelam tak bertujuan, pada setiap hela napas yang terlewatkan

Walau sudah terlalu dalam aku tenggelam, terjerembab dalam lembah hitam nan kelam
Tapi aku masih punya harapan, aku punya masa depan
Aku punya hak untuk menentukan setiap langkahku
Meski jiwaku terkoyak,
Walau Qalbuku  menghitam,

Aku merindukan secercah cahaya terang dalam gelapku,
Agar bisa membimbingku meniti langkah baruku,

Mungkin terlalu hina bagiku untuk meindukan dia,
Dia yang wajahnya selalu berseri,
Dia yang selalu terjaga di sepertiga malam,

Maka pantaskanlah aku yang hina untuk dia yang sempurna,
Duhai hening malam, bangkitkanlah ragaku pada  gelap dan sunyimu
Izinkan aku terjaga pada setiap sepertiga gelapmu
Biarkan aku bermunajat dalam dingin yang menusuk Qalbuku
Wahai fajar, usiklah aku dari lelapku
Kau mentari yang tengah meninggi, biarkan aku bersimpuh

Wahai ALLAH Tuhan ku, pijarkanlah cahaya dalam Qalbuku
Izinkan aku mencintainya karenaMU,
Tanamkanlah Rindu dalam hatinya untuk ku,
Pekenankan lah aku menjadi Imam bagi dia yang sempurna

ALLAH Tuhanku, Perkenankan permohonanku,

Aku memang tak sempurna,
Tapi aku akan berusaha,

=================

Sumber Gambar: harrymahathir.wordpress.com

Do'a Untuk 'Dia'



Dalam hening ku menengadah, menundukkan wajah
Hanyut aku dalam dinginnya hembusan angin malam,
Tenggelam dalam lantunan do’a
Terjaga diantara jiwa-jiwa yang bergelayut diantara bintang yang berpijar,
Diantara raga-raga yang terbaring tak berdaya

Dalam Sujud ku meminta agar dia kan selalu terjaga,
Hingga suatu saat ku menemukannya
Ketika KAU izinkan bibirku untuk menyebutkan namanya,
Saat aku dapat memandang parasnya,
Menyentuh lembut jemarinya,
Dan menjadi Imam baginya

Rabu, 04 April 2012

Sepi yang Tak Pernah Sepi

Sepi ,,,
Mungkin sepi  memang tak pernah ada,
Tapi sepi selalu saja terasa,
Saat aku sendiri,
Saat aku mencari,
Bahkan ketika aku berada ditengah keramaian,
Terkadang aku merasa sepi,

Sepi tak pernah ada,
Tapi sepi itu terasa,
Sepi bukanlah sunyi,
Sepi bukan dalam keheningan,
Ia bergemuruh didalam dada,
Mengoyak  jiwa,
Menghempaskan perasaan yang tak bertuan,
Sepi menggores kembali luka dalam qalbu,

Sepi tak pernah ada,
dan Sepi tak pernah sepi.

Senin, 02 April 2012

Sepi Gelisah

Ketika resah mengiringi setiap langkah,
Seakan aku berjalan tanpa arah,
Walau akhir ada dalam genggaman,
Namun hanya gelisah-lah yang pada akhirnya bertakhta,

Ingin ku teriak pada dunia,
memecah keheningan malam yang kelam,
Sekelam pandanganku yang seakan terhalang.
Namun semua itu sia-sia,
dan aku semakin terpuruk dalam kegelapan,
hitam,,,
kelam,,,
dan semua diam.

Directory Kata

blog search directory Society Blogs