Dari sepasang bola mata, Mencoba tuk merangkai kata-kata yang tercecer berserakan dalam ruang imaginasi menjadi kalimat-kalimat yang berarti, dan dapat memberi makna dalam kehidupan
Jumat, 19 Juli 2013
Kamis, 11 Juli 2013
Lusuh
Dalam sucinya waktu
Jiwa yang resah berbalut raga belia
Kini tengah galau dalam kembara
Mematahkan jarak yang entah
Menembus waktu namun terlalu
Semua demi apa.....?
Untuk siapa.....?
Entahlah....
Biarkan semua begini adanya
Bagai berjalan tanpa arah
Hingga nanti aku jengah
Dan segalanya berubah
Meniti langkah menuju berkah
Mengais ilmu walau tak tentu waktu
Aku
Bagai berlari dalam gelap
Menuju setitik cahaya nan mengkilap
Ku yakin semua kan benderang
Bersambut senyum nan riang
Cimanggu, 11 Juli 2013
Minggu, 20 Januari 2013
Ruang dan Kita
Waktu terus berputar beriring malam yang kian pudar
Jarak masih membentang terlalu angkuh untuk dipatahkan
Sementara rindu hanya bisa membisu didalam qalbu
Seakan Kita masih terlalu jauh
Jauh sudah aku berjalan
menyusuri ruang yang beraneka
menjejakkan kaki pada tempat berbeda
namun tak jua ku temukan kata Kita.
Entah siapa dirimu
Entah dimana 'kan ku temukan mu
Namun...
Ketika waktu berkonspirasi mengetuk dua qalbu
Maka rindu-lah yang 'kan menuntunku menuju kearahmu
Mematahkan jarak yang membentang
Menembus ruang yang berbeda
Menhancurkan diding yang menghalang
Hingga tiada lagi ruang berbeda
Kemudian hening menyapa
Tawa, Canda, Bersama
Melukiskan indahnya Kita
Jarak masih membentang terlalu angkuh untuk dipatahkan
Sementara rindu hanya bisa membisu didalam qalbu
Seakan Kita masih terlalu jauh
Jauh sudah aku berjalan
menyusuri ruang yang beraneka
menjejakkan kaki pada tempat berbeda
namun tak jua ku temukan kata Kita.
Entah siapa dirimu
Entah dimana 'kan ku temukan mu
Namun...
Ketika waktu berkonspirasi mengetuk dua qalbu
Maka rindu-lah yang 'kan menuntunku menuju kearahmu
Mematahkan jarak yang membentang
Menembus ruang yang berbeda
Menhancurkan diding yang menghalang
Hingga tiada lagi ruang berbeda
Kemudian hening menyapa
Tawa, Canda, Bersama
Melukiskan indahnya Kita
Sabtu, 24 November 2012
Surat Untuk Jodohku
Untukmu, Perempuanku,,,,
Wherever You are.
Aku berharap dirimu selalu sehat dan tak kurang sesuatupun. Aku yakin dirimu disana masih menantiku. Teruslah kau menanti hingga aku datang menjemputmu untuk kita jalani hidup bersama.
Rinduku, kini telah menuntun hatiku untuk mencarimu. Anganku selalu mencoba untuk melukiskan raut wajahmu yang berhias seulas senyum, namun semua sirna bersama gelapnya malam.
Ingin aku memanggil sebuah nama, nama yang telah dituliskan dalam sebuah kitab bernama Lauhul Mahfudz. Namun saat ini aku belum mengenal nama itu, namamu, perempuanku, jodohku.
Kalau boleh tahu, kamu sekarang ada dimana?. Aku mencarimu kemana-mana. Tapi aku belum jua menemui dirimu. Apa mungkin kamu adalah seseorang yang sudah aku kenali? Namun Allah belum megabarkannya kepada kita, jika kita berjodoh? Ya , kita. Aku dan kamu, hatiku dan hatimu.
Aku ingin menemuimu di saat yang tepat, saat kau telah siap untuk menjalani hidup bersamaku. Karna dalam pencarianku, aku juga tangah mempersiapkan banyak hal untukmu, untukku, untuk kita.
Perempuanku, do’akan aku, do’akan aku agar aku dapati jalan untuk menemukanmu. Do’akan aku agar aku dapat malihat wajahmu, mengenalmu, mencintaimu, dan meraih hatimu. Aku ingin pertemuan kita kelak, menjadi sebuah kenangan yang indah. Kenangan yang tak terlupakan, dan aku ingin mengabadikannya dalam kata kita, bersamamu. Aku dan kamu menuliskan kisah kita, agar seluruh dunia tahu.
Akulah lelaki yang kelak menjadi imammu, membimbingmu, dan menuntunmu agar kita dapat menjalani kehidupan kita dengan indah. Sayang, keindahan itu pasti akan tercipta jika kita bisa saling mengerti, saling memahami, dan saling berbagi. Semua itu pasti bisa kita raih, karna dirimu menggenggam erat separuh jiwaku, sebagaimana aku memeluk hatimu.
Perempuanku, sementara aku mencarimu. Belajarlah banyak hal, belajarlah tentang cinta dan kasih sayang, belajarlah untuk mengerti dan memahami, belajarlah untuk memberi dan berbagi, karna kelak jika kamu sudah hidup bersamaku, kamu harus melakukan banyak hal, sayang. Kamu akan menjadi pelengkap bagi jiwaku, kamu adalah ibu dari anak-anakku, anak-anak yang lahir dari rahimmu, anak kita sayang.
Aku tidak mengharapkan dirimu menjadi seseorang yang sempurna, karna aku sadar, tak ada seorangpun yang sempurna di dunia ini. Kesempurnaan itu adalah ketika kita, aku dan kamu, dapat saling melengkapi, saat aku lemah aku ingin kau menjadi penguat bagiku. Saat aku jatuh terpuruk, aku ingin kau menjadi penyemangat bagiku, dan ketika aku bahagia, aku ingin kau selalu ada disampingku. Karna bahagiaku adalah bersamamu.
Berjanjilah sayang, berjanjilah kita akan selalu bersama. Walau kita berbeda, kita masih tetap bisa bersama seperti pelangi kan? Yang dapat menjadikan perbedaan itu indah. Kita bisa kan menjadi seperti senjanya hari yang indah dan teduh, menyejukkan. Tapi aku yakin, senja kita akan lebih indah daripada senjanya hari.
Perempuanku, yang kini tengah mengharapkan kedatanganku, sebagaimana aku berharap untuk berjumpa denganmu. Yakinlah aku pasti akan menemuimu pada waktu yang tepat.
Salam penuh Cinta
Aku, Lelakimu.
Senin, 29 Oktober 2012
Menunggumu
Aku relakan kali ini untuk tidak menantikan matahari terbenam walau cuaca sangat cerah. Aku memilih untuk menghabiskan sisa hari ini di sebuah warung dimana tatapan kita pernah saling beradu.
"Bu, tolong buatkan kopi" pintaku pada pemilik warung dipinggir jalan itu.
Obrolan ringan bersama ibu warung memecah kebisuan diantara bising kendaraan yang lalu lalang.
Berpuluh bahkan beratus kata telah menguap bersama kepulan asap kopi hangat yang menemani sedari tadi.
Berkali kali aku menoleh pada arah yang mungkin dirimu akan datang, tapi setiap aku menoleh aku tidak mendapati dirimu berada disana.
Aku menunggumu dalam ketidakpastian, sama seperti yang kau lakukan beberapa hari yang lalu. Sungguh lucu, kau dan aku berada dalam dua ruang berbeda tersekat oleh ruang ruang yang entah.
Kepulan asap dari secangkir kopi yang sudah tidak penuh itupun sudah berhenti. Mungkin matahari yang tampak dari tepian pantai sana sudah separuhnya terbelah oleh lautan. Jarum jam yang melingkar di pergelangan tangan kananku terus berdetak, hingga adzan maghrib dikumandangkan kau tak juga datang.
Aku hanya bisa tersenyum menutup hari, dan berharap engkau yang entah dimanapun tersenyum jua.
Dalam hal ini, tidak ada yang patut untuk dipersalahkan. Dan aku, akupun tidak menyalahkan siapapun dalam hal ini. Aku tidak menyalahkanmu, pun diriku sendiri karna kita memang tidak pernah punya kesepakatan atas 'hal bodoh' yang telah kita lakukan masing-masing.
Mungkin takdirlah yang kelak akan andil dalam pertemuan kita. Dan aku tidak pernah menyalahkan takdir. Karna takdir punya jalannya sendiri, dan aku punya cara tersendiri. Aku sadar, sepenuhnya sadar, bahwa rencana TUHAN lah yang pasti berlaku. Tapi aku tidak tahu rencana TUHAN, maka aku mengupayakan apa-apa yang baik bagiku dengan cara-cara yang baik.
Rabu, 08 Agustus 2012
Tegarlah Adinda [Part II]
...
“Tapi sayang, kamu menitipkannya tidak pada orang yang tepat”, entah dia mengerti atau tidak, dengan maksudku.
Begitulah kemudian waktu yang kami lalui, selalu penuh petentangan. Aku tak ingin dia menyesal kemudian, karena telah mengecewakan orang tuanya demi egonya. Aku tahu dia sakit, tapi aku berharap rasa sakitnya dapat mendewasakannya.
Sudah beberapa minggu aku tidak membuat ponselnya berdering, walau hanya dengan sebuah pesan. Sms yang dia tujukan untukku, sering juga aku abaikan. Jika terpaksa harus bertemu, aku tak mau berlama-lama bersama dia.
Hal itu terus aku lakukan sampai waktu menempatkan aku diantara banyak orang, semua berpakaian rapih seperti halnya aku. Aku mengenal sebagian dari mereka, terutama sosok wanita yang mengenakan pakaian adat jawa. Wanita yang duduk bersebelahan dengan lelaki yang juga mengenakan pakaian adat jawa di hadapan kami. Wanita itu adalah dia, ya, dia. Hari itu adalah hari pernikahannya.
Pada hari itu, dia, raganya duduk di disinggasana bersama suaminya, tetapi tidak hati dan pikirannya. Sesekali matanya menatapku dengan senyuman yang tertahan, pandangannya mengatakan “seharusnya kamu yang duduk disini bersamaku, mas”
“Mengertilah, seorang lelaki sejati tidak akan meminang seorang wanita yang telah dipinang oleh lelaki lain”. Aku mencoba menegaskan kembali prinsip yang selama ini aku anut, melalui tatapan mataku dengan seulas senyuman.
Pandangan kami bertemu pada satu titik. Titik itu seolah menjadi satu ruang yang hening, didalam ruang itu hanya ada aku dan dia, saling berbicara.
“Aku gak bisa ngelupain mas”
“Terimalah dengan ikhlas, semoga kamu bisa bahagia bersama dia, suamimu. Bukan aku”
Aku tahu dia belum bisa untuk sepenuhnya menerima kenyataan ini. Tapi dia akan berusaha, dia mulai mengumpulkan energi positif yang tercecer. Dia sedang mencoba untuk terlihat tegar dan bahagia di hadapanku, juga di hadapan semua orang. Aku dapat melihat itu dari matanya, mata yang sembab dan agak memerah. Mata yang terus menangis dan hampir tidak tidur semalam sebelum hari pernikahannya.
Malam itu adalah kesempatan terakhirku untuk berbicara dengannya yang tulus mencintaiku, namun terluka oleh waktu. Walau terpisah jarak dan keadaan, namun aku tak ingin menyiakan waktu yang hanya tinggal sebentar saja. Karna pada hari berikutnya, dia adalah miliknya, suaminya.
“Halo” Suara lirih menyapa dari ujung sana dan menyusup melalui speaker ponselku yang men-dial ponselnya beberapa detik sebelumnya.
“Halo, lagi ngapa dek?, Sudah siap kan buat besok?” pertanyaan basi yang seharusnya tidak aku lontarkan. Karna sebenarnya aku tahu dari suaranya, dia sedang menangis malam itu.
“Aku lagi nangis mas”
“Menangislah, kalo itu bisa membuatmu lega” Aku tidak melarang dia untuk menangis, pun tidak memintanya untuk berhenti menangis.
“Sudah siap kan buat besok?” kembali aku bertanya dengan nada yang datar.
“Enggak tau, mas. Mungkin aku siap kalo mas gak ada didepanku saat akad nikah, mas”
“Baiklah, besok mas gak akan dateng”
“Enggak mas, mas harus dateng besok. Dedek kuat kok, Dedek bisa”
“Yakin?”
“Insya Allah, dedek bisa, mas. Mas do’ain aja ya buat aku. Aku pengen jadi adek Mas yang tegar!. Mas, janji besok dateng ya, pas akad nikah dedek”. Akhirnya dia mengatakan itu meski dengan terbata, dia tengah bangkit dari keterpurukan. Dan itu membuat aku tersenyum karna dia telah berusaha untuk menerima kenyataan ini, kenyataan bahwa dia adalah calon istrinya, dan aku adalah sahabatnya dan dia berusaha menganggap aku sebagi kakaknya, bukan calon suaminya.
“Do’a mas bersamamu” aku terus menyemangatinya. “Insya Allah besok, mas ada”
“Ma’afin dedek mas, ma’af dedek udah mencintai mas. Dedek bakal berusaha untuk ngilangin rasa cinta ini, sampe akhirnya Tuhan gak ngijinin rasa ini bersemayam di hati dedek”.
“Ya, aku tau kok,,,, tapi rasanya gak perlu untuk ngilangin rasa cinta itu. Yang perlu, kamu harus mencintai dengan benar. Mas yakin, kamu gak akan sakit karna cinta”.
“…”
“Mencintai dengan benar itu, pertama mencintai Allah melebihi apapun, kemudian mencintai Rasulullah dan para pewarisnya, mencintai ibumu, mencintai bapakmu, serta keluargamu. Barulah mencintai yang lain”
“Mas, bisa ngomong aku gak akan sakit karna cinta. Mas gak rasain apa yang aku rasain kan?, mas,…”.
“Mas tau apa yang kamu rasain sekarang. Karna mas juga pernah ngerasain apa yang kamu rasain sekarang. Kemudian, mas bisa belajar untuk mencintai dengan benar”
“Mas pernah rasain apa yang aku rasain sekarang?’ dan mas bisa lewati semua?. Ku yakin, Aku juga bisa!
“Optimis! Kamu pasti bisa. Makna cinta itu luas, sehingga kadang sulit bagi kita untuk memahaminya. Maka tempatkanlah ia dimana seharusnya ia berada”
“Ya, makasih ya mas, udah mau kasih semangat buat aku untuk bisa lewati semua ini. Seharusnya aku nyadar, orang yang ada dalam hatiku bukan jodohku”.
“Maka berilah ruang untuk yang lain. Senyum dong” Walau aku tidak bisa melihat senyumnya, tapi aku yakin senyuman itu akan memberinya energi positif untuk menghadapi kenyataan ini.
“Ya, pengennya senyum mas. Udah deh aku gak mau nangis lagi”.
Dan aku baru bisa melihat senyumnya di hari berikutnya walau masih tertahan.
====================
sumber gambar: metrotvnews.com
Selasa, 31 Juli 2012
Tegarlah Adinda [Part I]
Aku melihat dia merasa begitu nyaman bersamaku, begitu juga aku selalu menjadi diri sendiri ketika bersamanya.
Meski aku dan dia memiliki kepribadian yang berbeda, pemikiran yang berbeda, pandangan yang berbeda. Bahkan aku dan dia menempatkan cinta pada perspektif yang berbeda.
Dan hari yang terus berganti, minggu yang berlalu, dan waktu yang terus berjalan bersama aku dan dia, membuat hubungan kami semakin dekat dan sangat erat, hingga meski jarak memisahkan aku dan dia namun waktu tak lagi mampu memisahkan hatiku dan hatinya.
Akulah orang yang akan membuatnya tersenyum ketika dia sedih, hingga dia bisa tertawa bahagia. Aku adalah teman ketika dia merasa sepi. Aku…… Aku adalah orang yang beruntung telah mengenal dia.
Sedangkan dia, dia adalah orang yang selalu “mengganggu” tidurku ketika fajar menantikan mentari. Dialah yang selalu mengingatkanku untuk “Menghadap” ketika tiba masanya. Dia…… Dan dialah wanita yang memberi perhatian padaku, bahkan melebihi pacarku.
Awalnya aku dan dia hanya berbalas sms untuk saling menyapa. Kemudian sering aku menelponnya, terkadang juga dia yang rela menghubungiku hanya untuk berbalas canda, hingga aku dan dia dapat tertawa bersama, meski aku dan dia berada di tempat yang berbeda.
Ternyata perbedaan bisa menjadi terlalu indah, seperti halnya aku dan dia. Tapi perbedaan juga bisa menggalaukan dua hati yang saling berpadu, menyakiti hati yang sedang berbunga, ketika perbedaan itu berada pada waktu yang tak seharusnya.
Seperti saat hatinya di kuasai ego dan perasaan, namun aku mempertahankan prinsip dan logika. Saat dia menginginkan aku untuk menjadi lebih dari sekedar teman, atau sahabat, namun aku tak mengijinkan karena waktu dan keadaan.
Saat itu percakapanku dan dia, tak lagi sekedar tegur sapa. Namun hati dan seisinya tumpah didalamnya, hingga percakapanku dan dia menjadi penuh makna, karna tak hanya sekedar canda dan tawa namun juga luka dan air mata.
“Mas, gimana mas ama pacar mas?” Sering pertanyaan itu dia lontarkan di sela percakapan kami.
“Gak ada masalah, kita baik-baik aja kok” Itu jawaban yang selalu aku berikan, karena tak mau memberinya harapan. Agar dia tetap mencintaiku sebagai seorang sahabat. Hingga hubunganku dan dia tetap indah dan penuh warna seperti pelangi. Dan hubungannya dengan tunangannya, tetap baik-baik saja.
“Gimana kabar mamasnya dek?, baik-baik aja kan?, masih sering telpon kan?”, demikian, kadang aku terpancing untuk menanyakan hubungan dia dan tunangannya yang juga terpisah jarak, sebagaimana aku dan dia.
Saat itulah dia mulai bermanja, mencurahkan segala isi hatinya, hingga aku dan dia harus bermain dengan ego, memperdebatkan realita, dan aku tetap bertahan dengan prinsip. Aku “dituntut” untuk lebih dewasa, membimbingnya, dan meyakinkannya bahwa semuanya akan baik-baik saja.
“Mungkin karena kalian jauh, dalam hubungan, kita harus saling percaya, dan satu lagi, keep connecting. Percayalah, ini cuma ujian buat hubungan kalian, untuk mendewasakan kalian. Mas yakin, kalian bisa lewatin ini semua,” Begitu aku coba meyakinkan dia, bahwa semua hal negatif yang dia utarakan tentang hubungannnya dengan tunangannya hanyalah sekedar kekhawatiran belaka. Kemudian dia dapat menganggapku hanyalah sahabatnya.
Namun ego dan perasaannya yang berskongkol telah menancapkan rasa cinta yang begitu dalam di hatinya bahkan mampu mengalahkan logika dan menentang realita.
“Tau gak sih mas?, aku tuh sakit kalo lihat mas ama pacar mas”.
“Kita gak akan sakit, kalo kita mencintai dengan benar”.
“Aku sudah menitipkan cinta ini pada seseorang, mas”.
Aku paham, yang dia maksud dengan ‘seseorang’ itu adalah aku.
“Mas sudah putus ama pacar mas, dek…”, mungkin kalimat itu yang berharap dia dengar dari mulutku.
“Tapi sayang, kamu menitipkannya tidak pada orang yang tepat”, entah dia mengerti atau tidak, dengan maksudku.
... [continued]
===================================
sumber gambar: webku76.blogspot.com
Langganan:
Postingan (Atom)
