Dari sepasang bola mata, Mencoba tuk merangkai kata-kata yang tercecer berserakan dalam ruang imaginasi menjadi kalimat-kalimat yang berarti, dan dapat memberi makna dalam kehidupan
Minggu, 02 Oktober 2011
Cinta Dalam Selembar Batik Keraton [part 1]
Beberapa bus sudah berhenti dan kemudian melaju. Tapi aku belum berkesempatan untuk menumpangi salah satu bus itu, jarak ku masih terlalu jauh. Tiap bus berhenti, aku dan semua yang berdiri disana berkesempatan maju sekitar 5meter sebelum akhirnya dapat naik kedalam bus.
Hawa yang panas perlshan merasuk kedalam tubuh dan memaksa cairan-cairan dalam tubuh terdorong keluar melalui pori-pori. Disaat seperti ini, penampilan mungkin terabaikan. Batik kraton yang ku kenakan tak lagi licin, parfum yang tadi pagi aku semprotkan kini telah pudar bercampur keringat debu dan aroma sangit knalpot bajaj dan kopaja. Batik ini baru aku beli beberapa hari yang lalu, dan ini adalah satu-satunya baju batik yang aku miliki. Dan ini sangat istimewa, meski saat itu aku tak pernah berniat untuk membelinya. Namun sekarang aku seperti terhipnotis oleh motif-motif yang kini tengah aku kenakan...
teeet,,, besssss,,, Sebuah bus biru berhenti tepat dihadapanku, dan perlahan pintunya terbuka.
***
...continued...
Rabu, 04 Mei 2011
Imaginasi Liar
Ah, ini cuma tulisan yang tercipta karna terus terjaga, padahal ingin terlelap.
Imaginasi liar, berkelana dalam malam yang mengganggu jiwa yang resah, berjalan tanpa arah, tak tau kemana hendak melangkah.
Malam berkuasa dalam gelapnya, menebar sunyi pada raga-raga yang tekulai tanpa daya, sedang jiwanya jauh berkelana dialam yang berada entah dimana, mereka mengbara di alam mimpi yang tercipta dari imaginasi yang berlompatan dalam pikiran yang akhirnya melesat jauh dalam ketidaksadaran.
Semua jiwa berkelana dalam dekapan malam, kecuali jiwa-jiwa yang resah, jiwa-jiwa yang terus terjaga sepanjang malam, walau raga terbaring, meski mata terpajam, namun malam tak mampu untuk merenggut kesadarannya dan mengajaknya menari di alam nin jauh dari yempat raga terbaring.
Posted from WordPress for Android
Sabtu, 30 April 2011
Insomnia
Sabtu, 05 Februari 2011
Waktu
Ia berlalu dan tak akan pernah kembali. Jangan sia siakan dia, kita takkan pernah menemui saat ini lagi di masa depan. Yang ada hanya kenangan di masa lalu, dan kita tidak perlu untuk menoleh pada masa lalu dan bertanya mengapa?.
Tataplah kedepan, sesekali bolehlah kita melihat pada spion untuk sekedar memetik pelajaran dari apa yang telah berlalu. Namun tetap harus fokus dalam mengemudikan jalan kehidupan agar selamat sampai tujuan.
Kita semua tentu menginginkan sukses dalam hidup. Namun deskripsi sukses tiap individu itu berbeda, yang tak dapat di pungkiri adalah kita menginginkan kebahagiaan. Maka jadikanlah bahagia sebagai salah satu tujuan hidup.
Posted from WordPress for Android
Dalam Hening
Malam begitu tenang, aku berjalan keluar rumah mengitari jalanan sekitar perumahan tempatku tinggal. Tak ada seseorangpun yang aku temui. Yang ada hanya air yang menempel pada dedaunan, sisa hujan sore itu. Genangan air di jalanan yang tak ratapun hanya membisu dalam keheningan.
Aku terus melangkah dengan tenang dalam pekat, kembali ke rumah bersama buliran air yang sangat lembut berjatuhan. hingga aku tak menyadari adanya gerimis.
Di sebuah ruang berdinding putih, akhirnya aku mengakhiri langkahku malam itu. Tempat dmana aku biasa menghabiskan sisa malamku. Diatas ranjang kayu sederhana berbalut sprei putih bermotif bunga, aku hamparkan tubuhku. Sayup sayup suara dzikir manakieb yang dikumandangkan dari sebuah masjid menelusup masuk kedalam kamarku dan menembus celah celah telingaku dan membawakan perasaan tenang dalam diri sementara aku memejamkan mataku hingga aku terlelap.
***
Posted from WordPress for Android
Minggu, 23 Januari 2011
Cinta dan Pilihan
Aku pernah merasakan, bagaimana rasanya dicintai, aku juga pernah berjuang untuk mendapatkan cinta itu. Sekarang, izinkan aku untuk mencintaimu.
Senin, 01 November 2010
Kolaborasi Melodi Indah diatas Kopaja
Kopaja melaju dengan suara riuh mesin tua berpadu dengan teriakan kondektur bus yang terus berusaha menjaring calon penumpang. Teman teman yang duduk bergerombol asyik mengobrol, sementara aku yang duduk sendirian dihadapkan pada pamandangan Jakarta dengan bermacam status yang disandangnya dan paling terkenal dengan banjir dan mecetnya.
Seiring berpacunya waktu, kopaja terus melaju, berhenti, manaikkan/menurunkan penumpang dan kembali menggapai tujuan akhir, siklus itu terus berulang seperti mata rantai kehidupan. Tiba tiba ada suara gesekan dawai yang merasuk ke telingaku. dan seakan memanggilku. Iramanya terus mengalir dan "memaksa" aku untuk mencari sumber suara itu.
Aku menoleh dan mendapati seorang lelaki berambut gimbal tengah menggesek dawai biola yang ada diatas pundak kirinya, dengan tangan kanannya. Sal memejamkan mata, jemari tangan kirinya menari menari diatas fingerboard dengan khidmat nya. Seakan permainannya membawanya terbang.
Tidak hanya sang biolis yang terbang, akupin ikut hanyut dalam alunan melodi yang makin lama semakin menghentak. Sedang aku menikmati permainan tunggal, entah darimana datangnya permainan biola itu sudah berkaborazi dengan permainan gitar seorang musisi jalanan. Temponya meningkat, biola dan gitar berkolaborasi diatas kopaja Jakarta dan diantara hiruk pikuknya Kota. Sedang aku menikmatinya, bus yang kami tumpangi berhenti karena sudah mencapai tujuan akhir, yang kemudian disusul dengan berhentinya "Teater on The Bus" yang menampilkan duet antara permainan biola dan gitar.




